<< January 2012 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Wednesday, August 30, 2006
esei

 Rantai Kekerasan di Timor Lorosae Terus Berlanjut
Selma W. Hayati

Sabtu, 29/04, pagi sekitar jam 7.00 jalanan Ailoklaran menuju Radio Timor Kmanek (RTK) mulai dilewati beberapa mobil yang penuh dengan penumpang dan barang-barang keperluan sehari-hari, termasuk kasur.  Terlihat seorang ibu menggendong bayinya diikuti lima anaknya berjalan tergesa-gesa dengan wajah ketakutan.  Igo, 7, di depan warung kecil di sudut jalan asyik bercerita bunyi tembakan yang ia dengar dari arah sungai di Ailoklaran.

Kesaksian
Anjuran Presiden Xanana, PM Alkatiri, juga Presiden Parlemen dan konvoi F-FDTL dan PNTL di awal Mei kepada para pengungsi untuk kembali ke rumah mereka karena situasi telah aman dan jaminan keamanan 24 jam oleh F-FDTL & PNTL, tak mampu menyurutkan ketakutan sebagian besar mereka yang tinggal di tempat-tempat penampungan sementara. Justru rasa takut untuk kembali ke rumah dijawab dengan peristiwa berdarah di tanggal 23-25 Mei.

            ‘’28 April, sore, anak saya melihat seorang supir mikrolet dipukuli dengan kayu. Ia juga melihat tujuh orang diikat kaki dan tangannya dan dilempar ke truk.  Ia biasa saja melihat kejadian itu, seolah-olah ia memang harus melihat pemukulan itu.  Ee..ee..Ia malah ikut-ikutan. Pakai ketapel, ia arahkan ketapelnya itu ke supir mikrolet itu.  Ini tidak sehat buat anak-anak saya.  Saya sendiri masih punya bayi, masih harus menyusui, yaa…harus lari.  Tembak-tembakan itu terjadi di depan rumah kami.  Kami masih simpan selongsong peluru itu,’’ kata seorang ibu yang memilih lari, sambil menggendong bayinya berumur 9 bulan, melewati ladang di belakang rumahnya di Rai Kotu untuk sampai di Don Bosco.

Sejak Jumat, 28/04 ia bersama suaminya, dan empat anak laki-lakinya tinggal di Don Bosco. 

‘’Kami lihat satu anak UNPAZ ditembak di sebelah Don Bosco, satu lagi di bukit. Anak-anak semua di sini mendengarkan bunyi tembakan, melihat F-FDTL yang mengarahkan moncong senjatanya kemana-mana, ke kami, masyarakat biasa ini,’’ ceritanya, seolah-olah tak mau menyelesaikan kalimatnya.

Don Bosco berbeda dengan hari-hari sebelumnya.  Semua halaman dan aula besarnya dipenuhi oleh anak-anak yang berlari-lari ke sana kemari, ibu-ibu yang menanak nasi, memasak sayur, tiduran, mengambil air, menggendong anak-anak dan bayi mereka, anak-anak muda yang mengobrol santai, avo yang mamar malus, dan bapak-bapak yang asyik mengasuh anak-anak, mengobrol serius tentang bagaimana mereka harus lari, isu-isu yang mereka dengar, dan kejadian yang mereka alami sehingga mereka memutuskan untuk lari ke Don Bosco. 

‘’Gereja saja tempat yang bisa diharapkan membantu kami.  Mereka tidak dikontrol Pemerintah dan dekat dari rumah kami,’’ kata Manuel yang sehari-harinya bekerja di organisasi non-pemerintah internasional di Dili.

Terlihat juga di malam hari, para anggota PNTL yang baru menyelesaikan tugas mengunjungi keluarganya.  Yang mencolok adalah kehadiran mobil Tata di halaman parkir belakang aula Don Bosco, katanya keluarga staf Kementerian Kehakiman.  Bagaimana ada keadilan, kalau mereka juga lari seperti kami, pendapat ini sempat dilontarkan oleh salah seorang tiu.  Tak satupun terlihat tokoh dan keluarga elit politik di pemerintahan maupun elit partai politik tinggal sementara di Don Bosco. Yaa, kami takut, orang besar dijaga PNTL atau sekuriti Chubb atau Maubere, kami rakyat kecil ini harus cari selamat sendiri, kata Marcus dengan serius. 
***

Berlanjutnya Rantai Kekerasan & Trauma
Indonesia mewariskan rantai kekerasan dan trauma yang sulit untuk dipatahkan oleh elit politik, kebijakan pemerintah, dan masyarakat.   Di sisi lain, peristiwa berpindahnya penduduk Dili pada 2 Januari tahun lalu karena isu tsunami telah memberikan pelajaran kepada kita bagaimana mesin isu bekerja dengan cepat dan berdampak pada masyarakat Dili.

Kehebatan mesin isu itu kembali ditunjukkan oleh masyarakat Dili dan 12 distrik lain setelah Taur Matan Ruak mengumumkan pemecatan terhadap 591 anggota FFDTL.  Mesin isu itu memproduksi dan mengalirkan isu-isu negatif mengenai rencana dan bentuk perlawanan vertikal dari 591 anggota FFDTL yang mengajukan keluhan ketidakadilan di dalam institusi FFDTL.

Tak seorang pun pejabat pemerintah, partai politik, dan tokoh-tokoh masyarakat memperhatikan hubungan yang kuat antara kondisi trauma yang melekat pada masyarakat umum dan bekerjanya mesin isu tersebut. 

Sebaliknya, trauma dan rasa takut masyarakat umum (public fear) terhadap kekerasan struktural itu sendiri diabaikan oleh para pengambil keputusan.  Pada awalnya keputusan pemecatan itu yang memegang peranan paling penting dalam penciptaan isu-isu, melahirkan rasa takut, dan membangkitkan kembali trauma masyarakat.

Ironisnya, para elit oposisi dan pemerintah yang sebenarnya juga diliputi rasa takut, justru bermain dengan lihai menciptakan perang urat syaraf yang mempertebal rasa takut dan kreativitas masyarakat umum dalam menciptakan isu-isu. Contoh, perdebatan mengenai korban yang meninggal dunia dari operasi penembakan oleh FFDTL di Tacitolu, 28-29/04; pihak petisioner mengklaim korban yang meninggal dunia sebanyak 60 orang; pada awalnya Pemerintah mengklaim hanya 5 korban meninggal; selanjutnya Kantor Provedor HAM menyatakan 34 orang meninggal; dan partai oposisi terbesar kedua tanpa investigasi menyatakan 100 korban.

Jatuhnya korban pada hari Jumat, 28/04 dan Sabtu, 29/04 menambah daftar panjang diproduksinya kembali kekerasan struktural oleh institusi keamanan; keluhan ketidakadilan yang diajukan oleh Salsinha dkk melahirkan rasa takut pada masyarakat umum, berubahnya konflik vertikal menjadi konflik horizontal, mengungsinya masyarakat umum terutama perempuan dan anak-anak, dan penggunaan alat-alat represif.

Tercatat, Presiden Xanana, Perdana Menteri Alkatiri, Ramos Horta, Rogerio Lobato, Paul Martins memberikan seruan kepada masyarakat untuk tenang dan kembali ke rumah masing-masing, juga tindakan pengamanan kota oleh institusi keamanan tak mampu membuat masyarakat percaya dan mengikuti seruan mereka.  Seruan dan pengamanan kota oleh tentara dan polisi internasional (bukan di bawah PBB) hanyalah penyelesaian sesaat yang tidak menyentuh kondisi dasar masyarakat, yaitu masyarakat yang telah capai dengan kekerasan struktural dan trauma.

Seperti tahun lalu dengan isu tsunami, PNTL mengefektifkan Pasal Penghasutan KUHP untuk menangkap beberapa orang yang dituduh sebagai pencipta isu/rumor yang mengganggu stabilitas nasional. Tak mempan, mesin isu atau rumor tetap saja gencar mematahkan akal sehat.  Sisi lain, mencari tahu siapa yang menimbulkan isu-isu kekerasan tak akan membantu menyembuhkan trauma yang baru saja timbul dan justru bertambah dengan aksi FFDTL di dua hari itu, 28/4 dan 29/4

***
Proyek & Program: Jauh dari Akar Masalah
‘’Saya datang dengan ayah dan tetangga dari aldeia Rai Hun pada hari Jumat jam 5 sore ketika saya dengar tembak-tembakan, banyak sekali. Menakutkan. Waktu kami lari, Mama di rumah sakit nasional,  melahirkan adik laki-laki Sabtu malam.  Seminggu kami tidak sekolah karena bapak ibu guru kami takut datang ke sekolah,’’ kata Ester de Fatima, 11.
 
Berapa duit yang dihabiskan untuk program-program kesetaraan jender dan pemberdayaan perempuan Kantor Promosaun Iqualidade, UNDP, organisasi-organisasi non-pemerintah, dan badan-badan PBB yang lain? Berapa USD telah dihabiskan dan berapa kali pelatihan mengenai jender, resolusi konflik, peran perempuan dalam politik, telah diadakan sejak 1999, baik oleh Pemerintah, partai politik, maupun organisasi-organisasi non-pemerintah?  

Tanpa mengesampingkan kerja-kerja yang selama ini telah dibangun, sangatlah perlu merefleksikan kerja-kerja itu dengan sebuah pertanyaan: apakah hasil ratusan pelatihan itu mampu mematahkan ketakutan dan trauma publik di dalam situasi ketakutan massa,  seperti yang terjadi di masyarakat Timor Lorosae?  Satu-satunya upaya Pemerintah dalam mengatasi masalah kejiwaan adalah Program Saude Mental (Kesehatan Mental) selama kurang lebih tiga tahun, sayangnya telah selesai tahun lalu. 

Selama dua hari mengunjungi kamp pengungsian Don Bosco, mereka yang berasal dari Tacitolu dan Rai Kotu tak dapat melepaskan trauma dan rasa takut dari peristiwa 28 & 29 April.  Tiap kali bertemu mereka, para pengungsi lokal itu menceritakan berulang-ulang kejadian yang mereka alami.  Bagi mereka, bercerita dipakai sebagai cara untuk mengusir rasa takut dan trauma.  Mayoritas mereka adalah kaum ibu dan anak-anak. 

Kerja-kerja domestik, seperti memasak nasi dan sayur, menyiapkan susu instant, mengambil air dari tangki yang tersedia, dan mengasuh anak tetap dilakukan oleh kaum ibu yang mengalami trauma dan menanggung beban rasa takut.  Bagaimana dengan para bapak? Tentu saja pernyataan pemaaf yang muncul dari kita adalah kerja-kerja penyetaraan beban kerja antara laki-laki dan perempuan membutuhkan waktu yang lama, bisa dua-tiga generasi, tak semudah membalik tangan. 

Kamp-kamp pengungsi mulai penuh dengan bantuan kemanusiaan: pembagian bahan makanan dan non bahan makanan, air bersih, tenda dengan nama masing-masing organisasi terpampang di tangki air, pagar, dan tenda.  Proyek-proyek baru badan PBB dengan banyak staf internasional baru (yang tak tahu mengenai Timor Lorosae dan kerja-kerja yang telah dilakukan pasca 99) mulai menjamur, misalnya perlindungan terhadap anak-anak yang selama ini gencar dilakukan oleh NGO lokal dengan sumber daya terbatas, mulai dilakukan oleh UNICEF, tanpa menyentuh problem trauma yang telah melekat sejak lama.  

Beberapa saat badan-badan PBB mengambil alih koordinasi bantuan kemanusiaan dari Kementerian Solidaritas yang sejak awal bekerja keras dengan NGO internasional dan kemudian diikuti oleh NGO lokal.  Kementerian Solidaritas harus sedikit berusaha memimpin kembali koordinasi itu dari tangan badan-badan PBB.

Dalam kondisi yang sulit secara psikologis, para pengungsi terutama perempuan rentan sekali terhadap stress dan kekerasan.  Beberapa percobaan perkosaan telah terjadi paling sedikit di dua camp.  Sesaat setelah kejadian memang korban secara perseorangan mendapatkan perawatan dan konseling, tapi untuk kelanjutannya dalam jangka panjang dan kembali pada pertanyaan, bagaimana Pemerintah dan organisasi-organisasi non pemerintah yang ada mampu mengatasi penyakit psikologis massal dan rasa takut publik pasca penjajahan Indonesia dan kejadian-kejadian kekerasan dalam empat bulan terakhir.

Berapa lama waktu tak bisa dipastikan kapan masyarakat Timor Lorosae mampu menghentikan dan membebaskan diri dari rantai kekerasan dan trauma ini.  Kutipan pengalaman dari beberapa mereka yang terpaksa meninggalkan rumah mereka menunjukkan generasi seusia Ester (11) dan Igo (7) telah melihat dan merekam kekerasan di sekitar mereka.  Mereka tumbuh dalam situasi nasional yang tidak mampu menghentikan rantai trauma, rasa takut publik, dan kekerasan itu sendiri dan tidak dihargainya akibat konflik itu kepada para korban di masa sekarang dan mendatang, baik psikologis maupun fisik.

Sisi lain, di tengah situasi perekonomian yang buruk, berapa orang yang tergantung hidupnya dari gaji 591 orang F-FDTL yang dipecat itu, terutama anak-anak dan ibu-ibu yang tidak mempunyai penghasilan sendiri, berapa anak yang berkurang jatah susunya karena ayahnya tidak bekerja lagi, berapa orang generasi muda yang tidak bisa membayar biaya SPP di universitas swasta yang maha mahal karena kakak dan orang tuanya kehilangan pekerjaan?  Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin tidak pernah terpikirkan oleh mereka yang mengatakan bahwa pemecatan 591 anggota F-FDTL adalah masalah ringan dan sehingga tidak perlu memunculkan pertanyaan-pertanyaan itu sebagai beban.

Sementara itu selama protes dua hari di akhir April lalu, para pedagang menengah mengeluh bahwa mereka rugi karena protes itu (baca STL, 25-26/04, TP,26/04) tanpa didukung oleh perhitungan nominal yang nyata.  Pemerintah dan para pengusaha selalu hanya memperhitungkan biaya ekonomi dari sisi kerugian. Pemerintah tidak  memperhitungkan biaya psikologis yang dialami oleh mereka yang ketakutan, lebih-lebih para ibu dan anak-anak. 

Ami husu communidade sira fila ba uma, situasaun seguru ona (Kami minta masyarakat kembali ke rumah masing-masing, situasi sudah aman).

Kata-kata para pembesar negara ini memang akan mampu memulangkan para pengungsi, tetapi seruan ini tidak akan menghilangkan rantai kekerasan, trauma, dan kesehatan psikologis seseorang atau sekelompok masyarakat menyikapi kekerasan.
*** Dili, 230806
           
Tiu: paman

Avo: kakek, nenek
Mamar malus: makan sirih

 


Posted at 07:00 pm by ivochealves
Comment (1)  

Monday, March 27, 2006
HEIN

cerpen Menunggu HP Berderit
Sandi Firly


Seperti malam-malam yang lain, ia selalu tekun di depan komputernya menyelesaikan pekerjaan kantor yang memang harus dikerjakan malam-malam karena ia memang pekerja malam.

 

Come away with me in the night
Come away with me
And I will write you a song

 

Lagu Come Away With Me Norah Jones mengalun lembut yang distelnya dari komputer. Ia selalu ditemani lagu-lagu setiap bekerja. Ia penyuka jenis musik apa saja, kecuali dangdut. Meski ia tahu musik dangdut sedang menjadi trend, dan televisi berlomba-lomba menampilkan para penyanyi, persisnya sih para penggoyang dangdut ke dalam layar kaca untuk mengebor pemirsa.

Jam baru saja menunjukkan pukul sepuluh malam, namun ia sudah terkantuk-kantuk. Memang, jam tidurnya tak beraturan. Siang terkadang tak tidur sedetik pun, sementara ia baru tidur dini hari pukul empat pagi setelah pekerjaannya selesai dan ditambah dengan membaca buku atau kadang-kadang menulis puisi atau surat cinta, atau juga catatan harian di dalam komputer. Ia suka menulis surat cinta, meski ia sadar tak siapapun yang ditujunya. Mungkin ini ada hubungan dengan sifat pengkhayalnya yang suka merembes kemana-mana.

Yang sering membuatnya gelisah adalah telepon genggam. Ya, benda canggih mungil itu selalu bikin dia gemes. Seperti malam-malam yang lain, telepon genggam itu tergeletak rapi di sisi kiri keyboard-nya. Hampir setiap sepuluh menit ia melirik ke telepon genggamnya itu sambil berharap ada SMS masuk atau telepon tak terjawab. Padahal ia tahu, SMS atau telepon masuk bisa diketahui dari deritnya yang cukup nyaring. Tapi itulah, tetap saja setiap sepuluh menit matanya melirik ke layar telepon genggam berwarna hitam itu sambil mengharapkan ada SMS atau telepon yang tak terjawab. Dan pekerjaannya jadi sering molor. Belum lagi ditambah dengan tidur-tidur ayam di bangku kerjanya.

Semakin larut malam, ia selalu saja semakin gugup. Bukan karena pekerjaan yang semakin menuntut, tapi karena semakin mengharapkan telepon genggamnya berderit menerima SMS atau telepon entah dari siapa. Ia berharap ada wanita entah dari mana yang tersesat mengirimkan SMS ke telepon genggamnya. Atau seorang wanita yang salah sambung mencari suami atau pacar.

 

Di saat istirahat, ia kadang membuka daftar nama-nama di dalam file telepon genggamnya. Setiap pada nama perempuan, ia berhenti sebentar sambil memikirkan perempuan itu.

 

Ada banyak nama perempuan di dalam telepon genggamnya, sebagian besar didapatnya dari kenalan di chatting sehabis kerja dan itu biasanya di atas pukul 02.00. Kadang, habis chatting ia juga nelepon wanita itu. Ada yang di Singapura, Medan, Bandung, Jakarta, atau di Banjarmasin sendiri. Tapi untuk di Banjarmasin ia sangat jarang. Ia lebih menyukai kenalan dengan wanita yang jauh, kalau perlu di luar negeri. Bahasa Inggrisnya juga lumayan jago. Ia ngobrol ngalor ngidul, kebanyakan ia bercerita tentang dirinya sendiri. Tentang pekerjaannya, tentang temannya, tentang keluarganya, tentang perempuan-perempuan yang pernah dekat dengannya, atau cuma tentang kesepian malam-malamnya.

Ia memang cukup pandai ngobrol. Lawan bicaranya selalu dibikin betah dengan bicara dan candanya. Terlebih lagi bila ia bicara tentang bagaimana wanita yang harus menjadi calon istrinya. Dan biasanya, wanita memang suka bila membicarakan sesamanya, dan mungkin karena itu pula setiap wanita yang diteleponnya betah saja mendengar ocehannya.

I can't help myself
I've got to see you again

Saat lagu Norah Jones, I've Got to See You Again di side B itu mengalun, jam sudah pukul dua belas malam. Pekerjaannya masih belum selesai. Ia juga semakin gelisah memandang setiap sepuluh menit telepon genggamnya yang tak juga berderit. Seorang perempuan yang diharapkannya SMS atau menelepon, tak jua terkabul. Telepon mungil itu masih tergeletak rapi di sisi keyboard komputernya, seperti batu.

Malam-malam yang lewat, di saat ia sangat mengharapkan ada SMS atau telepon dari wanita yang diharapkannya, atau wanita mana saja dari belahan dunia ini, ternyata yang SMS adalah teman kantornya sendiri yang menanyakan tentang pekerjaan. Padahal di hati ia sudah bersorak gembira ketika telepon genggamnya berderit. Dan saking kesalnya, SMS-SMS yang tak diharapkan itu sengaja tak dibalasnya.

Ia lebih sering membayangkan SMS itu dari wanita yang mengajaknya kenalan, atau malah kencan.

 

Eh, sedang ngapain? aku lagi kesepian nih, datang dong ke Motel B, kamar 243

Ia tersenyum sendiri merangkai isi SMS itu yang diharapkannya masuk ke dalam telepon genggamnya. Dan setiap membayangkan itu, ia pun melirik lagi ke telepon genggamnya yang masih saja membatu. Kadang ia elus-elus telepon genggamnya, atau malah didekap, dan sedetik itu ia kembali berharap ada SMS masuk atau telepon sehingga dia bisa merasakan getaran telepon genggamnya itu. Namun, khayalan-khayalan itu seringkali gagal. Dan telepon genggamnya kembali tergeletak diam seperti biasa di samping kiri keyboard-nya.

Memang, pacarnya ada kala menelpon. Tapi itu dianggapnya berbeda bila SMS atau suara di seberang sana adalah dari kerongkongan perempuan yang tak dikenalnya. Atau dikenalnya tapi ia belum pernah bertemu secara tatap mata. Ia memang sering terobsesi juga dengan suara-suara perempuan di dalam telepon. Menurutnya, suara perempuan itu lebih indah didengar dengan tanpa harus bertatapan langsung dengan si pemilik suara. Sebab itu pula mengapa ia gemar menelepon teman-teman perempuannya yang kenal lewat chatting semalam.

Ia tahu, teleponnya jarang juga dihubungi oleh rekan kerjanya. Kendati begitu, kemana-mana telepon genggam itu selalu dibawa-bawa, sekalipun ke dalam WC. Saat di WC ini khayalannya semakin liar lagi. Keseringan ia sambil menelepon wanita, atau setidaknya berharap ada telepon dari wanita entah siapa saja.
***

Sudah hampir pukul dua dini hari. Kegelisahannya terus memuncak. Tampak berbeda dengan malam-malam sebelumnya, kali ini ia terlihat semakin suntuk meski pekerjaan sudah rampung. Ia putar kencang-kencang lagu Metallica terbaru, St. Anger, lewat tape sambil menggebuk-gebuk mejanya sendiri dengan mata yang tetap tak pernah lepas dari telepon genggamnya yang masih saja terbujur kaku. Ia terus berharap ada perempuan entah dari mana saja yang tiba-tiba mengirimkan SMS atau telepon salah sambung. Ia ingin menggodanya dan bahkan kalau perlu mengajaknya kencan. Ketika telepon genggamnya hanya diam membatu, ia semakin kesal dan marah. Gebukan tangannya semakin keras sampai lagu berakhir.

Ia tampak menyandar lelah di kursinya. Matanya masih terpaku pada telepon genggamnya yang kali ini menampilkan wujud aslinya sebagai benda mati. Tergeletak kaku tanpa berderit sekali pun jua. Sebentar dia rapikan mejanya yang tampak berantakan. Ia bersiap-siap pulang, atau mungkin di jalan nanti bisa saja dia akan berbelok ke bar. Dengan malas diraupnya telepon genggamnya sambil bangkit dari kursi menuju keluar.

Sebelum menutup pintu ruang kerja, ia terpaku sejenak. Lantas menimang-nimang telepon genggamnya, tampak ada kebimbangan. Sejenak seulas senyum tersungging di bibir tebalnya, dan sedetik kemudian dicemplungkannya telepon genggamnya ke dalam akuarium yang tergelak di samping pintu. Senyumnya kini semakin mekar. Sambil bersiul, ia melenggang keluar.

Bipp…
Bipp….Bipp…..

***
Heaven, Oktober 2003


Posted at 10:33 pm by ivochealves
Make a comment  

KESTIONÁRIU TETUN

Kestionáriu Tetun

´Moris ho dalen rua/balu durante okupasaun´

Prof. Dr. George Saunders (g.saunders@uws.edu.au)

Konsultór Akadémiku

Institutu Nasionál Linguístika nian

Universidade Nasionál Timór Lorosa'e

 

A. Fraze ne'ebé deskreve ha'u-nia situasaun di'ak liu maka:

#3. Ha'u inklui ema sira ne'ebé seidauk iha eskola primária bainhira ema indonéziu sira to'o mai atu okupa Timór Lorosa´e.

B. Hahusuk sira:

(a). Kona-ba ha'u-nia an rasik

§ Ha'u moris iha loron-26, fulan-Maiu, iha knua Uaibira, suku Vessoru

§ Dalen-kahorik sira be ha'u hatene no ha'u-nia nivel kbiit dalen sira-ne'e nian mak hanesan tuirmai:

Dalen NauetiHatene ko'alia loloos no momoos tanba ha'u moris duni iha knua ne'ebé nia ambiente moris ko'alia dalen ida-ne'e

Dalen Tetun-Prasa: Hatene ko'alia loloos no momoos tanba ha'u-nia inan-aman bainhira sira sei hela iha Dili, sira ko'alia dalen ne'e hodi halo komunikasaun molok sira halai bá Matebian tanba okupasaun Indonézia nian

Dalen Indonézia: Hatene ko'alia, hakerek tuir ortografia no gramátika. Dalen ne'e ha'u hatene tanba durante hahú ha'u-nia eskola hosi nivel primária to'o ramata ha'u-nia estudu iha universidade, ha'u sempre uza de'it dalen ida-ne'e.

Dalen Inglęs: Iha nivel komprensaun ne'ebé di'ak no mós bele halo komunikasaun ho di'ak

Dalen Tetun-Terik: Hatene ko'alia uitoan no komprende ho didi'ak. Dalen ne'e ha'u hatene tanba ha'u iha tempu be naruk hela iha sidade Viqueque ne'ebé ko'alia dalen ne'e.

Dalen Kairui: Hatene ko'alia uitoan no komprende bainhira makdalek dalen halo konversa ba malu. Dalen ne'e ha'u hatene ko'alia no komprende tanba kolega barak mak ami ransu malu no mós durante milísia hahú hala'o sira-nia atividade iha Viqueque, ha'u halai ba subar iha knua ne'ebé ko'alia dalen ida-ne´e mezmuké ladún moos

Dalen Makasae (ne´ebé uza iha Viqueque): Hatene ko'alia uitoan no mós komprende bainhira makdalek nain sira ko'alia. Hanesan mós dalen kairui, ha'u hatene ko'alia dalen ne'e uitoan tanba de'it ha'u-nia fafutuk beluk ho makdalek sira dalen ne'e nian.

§ Loos duni, ha'u konsidera lia-tetun nu'udar ha'u-nia dalen-inan tanba dalen ne'e de'it mak bele halo Timoroan hothotu komunika no halo konversa ba malu i lia-tetun iha papél importante hodi hametin fafutuk unidade entre Timoroan tomak. Hatene ho di'ak dalen ne'e bele hafasil ha'u-nia ligasaun ho ema Timóroan sira seluk mezmu ami mai hosi distritu ne'ebé ketaketak.

(b). Eskolarizasaun no papel lia-indonéziu nian

§ Ha'u ladún hatene loos tanba ha'u hahú ha'u-nia eskola primária iha tinan 1983 – hafoin tinan hitu tiha Indonézia okupa Timór Lorosa'e - maibé ko'alia ho bazeia ba tinan be ha'u hahú ha'u-nia eskola primária, ha'u bele dehan katak eskola hotu-hotu uza kurríkulu Indonézia nian ne'ebé admite de'it lia-Indonéziu mak bele uza hodi hanorin iha eskola sira i dalen seluk hanesan tetun no portugés la hetan fatin atu aplika hodi ema bele aprende iha eskola sira. Bandu atu uza dalen tetun no portugés iha eskola sira halo ho presaun ne'ebé maka'as mezmuké iha eskola privada sira misaun bele uza dalen tetun no portugés hodi hanorin meibé ida-ne'e mós hetan presaun.

§ Nu'udar alunu iha tempu ne'ebá, ha'u halo tuir no simu de'it regra ne'ebé iha. Hafoin agora mak ha'u realiza katak se ha'u aprende nanis dalen tetun no portugés iha altura ne'ebá, ha'u bele ona uza dalen sira-ne'e ho di'ak iha tempu agora daudaun ne'e. Maibé ha'u hanoin katak la iha liafuan tarde atu aprende hodi nune'e ha'u iha esperansa atu dezemvolve ha'u-nia końesimentu rasik iha dalen rua ne'e agora no mós iha tempu oinmai.

§ Tanba ema Indonézia sira rekruta mestre/a sira balu ne'ebé iha kualifikasaun edukasaun nian hosi tempu portugés hodi hanorin iha klase báziku sira iha eskola primária, mestre/a sira-ne'e sempre lori ho ai ida iha liman hodi hata'uk alunu sira bainhira alunu sira la hatene ko'alia lia-Indonéziu.

§ Loos duni, tanba iha autorizasaun atu uza de'it lia-Indonéziu iha área eskola nian maski alunu balu dalaruma uza dalen tetun ka dalen kahorik seluk hodi halo komunikasaun ho sira-nia belun.

§ Alunu sira sempre hetan kastigu isik bainhira sira ko'alia sira-nia dalen rasik. Kastigu isik sira mak hanesan: kanta iha sala eskola nia oin, mestte/a baku ho ai, dasa sala eskola laran, rega ai-funan iha jardín, hakne'ak iha klase oin, nst.

§ Dalabarak sira uza dalen Indonézia tanba sira toman tiha ona i dalaruma mós sira uza de'it dalen tetun ka sira-nia dalen kahorik.

§ Timoroan sira sempre hakarak ema seluk ne'ebé la komprende saída mak sira kompara ka konversa nune'e sira sei muda dalen bainhira ema Indonéziu sira tama tan iha sira-nia leet i dalaruma sira ta'uk ko'alia sira-nia dalen rasik bainhira iha ema Indonéziu nia oin hodi hasees sira-nia an hosi deskonfiansa ema Indonéziu nian katak sira-ne'e ema ne'ebé lakohi aprende dalen Indonéziu

§ Profesór ka mestre/a husi Indonézia nunka hakarak atu aprende tanba mestre/a sira Indonézia ne'e tuir uluk tiha ona treinu ka formasaun espesífiku ne'ebé hanaran P4 (Pedoman Penghayatan dan pengamalan Pancasila) ne'ebé prepara sira atu aplika sasán hotu-hotu iha dalen Indonézia selae sira ne'ebé la halo tuir sei hetan presaun hosi sira-nia maluk militár sira i bele mós muda tiha sira ba fali rai-indonézia ne'ebé simu salariu be uitoan de'it duké nivel salariu ne'ebé sira simu bainhira sira hala'o sira-nia knaar nu'udar mestre/a iha Timór Lorosa'e portantu sira la iha leet atu uza dalen seluk aleinde dalen Indonézia.

§ Durante iha sala eskola laran, alunu bandu atu uza dalen tetun hodi belun ne'ebé la komprende liafuan Indonézia ruma tanba iha de'it autorizasaun atu uza de'it dalen Indonézia iha área eskola nian.

§ Mestre/a sira sempre fó kastigu isik ba labarik sira ne'ebé la hatene ko'alia dalen Indonézia i kuandu labarik sira ne'e lakohi haka'as an atu halo esforsu be maka'as liután hodi estuda no aprende dalen Indonézia entaun sira bele repete tan iha klase primeira to'o sira hatene ona ko'alia iha dalen Indonézia i dalaruma mós labarik sira-ne'e bele pasa ba klase daruak maski sira la hatene ko'alia dalen Indonézia tanba sira-nia tinan boot ona.

§ Iha Universidade sira ne'ebé eziste iha Timor Lorosa'e mós hetan autorizasaun atu hala'o prosesu akadémiku iha dalen Indonézia. Bainhira estudante Universidade hakerek sira-nia disertasaun ka teze mós tenke uza lia-Indonéziu. Profesór timoroan sira iha klase hanorin nian, fó palestra ruma, halo diskuasaun ka enkontru ruma sempre uza lia-indonéziu hodi hato'o matéria, lisaun ka informasaun ruma i sira nunka uza lia-tetun atu esplika konseitu susar ruma. Bainhira hasoru profesór sira iha sala li'ur, ita tenke mós ko'alia ho lia-indonéziu hodi hatudu dixiplina no ita-nia respeitu ba profesór i ida tan mak atu hasees an hosi ema-indonéziu sira-nia deskonfiansa katak ita ko'alia konaba sasán klandestina nian.

§ Atu ko'alia-halimar entre belun, estudante sira dalaruma uza dalen tetun ka dalen kahorik sira-nian hodi komunika ba malu i dalabarak mós iha komunikasaun nia laran estudante sira kahur ho dalen Indonézia balu tanba estudante barak mak ladún hatene ko'alia tetun ho termu espesífiku ruma maibé kuandu halo diskusaun ruma sempre uza lia-indonéziu atu hafasil matéria diskusaun.

(c). Moris loroloron no papel lia-Indonéziu nian

§ Iha autorizasaun hosi ukun-nain sira atu uza de'it dalen Indonézia iha eskritóriu governu nian hotu-hotu maibé iha sirkuntánsia espesífiku hanesan bainhira ita bá iha fatin sira-ne'e no ita hasoru malu ho timoroan ruma ita bele ko'alia ba malu ho lia-tetun ka kahur de'it ho dalen Indonézia nian

§ Papél lia-tetun no dalen Timór seluk uza de'it iha kondisaun no situasaun sira ne'ebé ladún formál nune'e iha tempu okupasaun papél dalen tetun ka dalen seluk ladún importante maski iha esforsu maka'as hosi universitáriu sira atu inklui dalen tetun nu'udar departamentu ida iha fakuldade siénsia Universidade Nasionál Timór Lorosa'e/UNTIM maibé la konsege dezemvolve liután tanba presaun ne'ebé maka'as hosi militár Indonézia sira. Dalen tetun mós hetan fatin hodi dezemvolve an iha uma-kreda sira maibé dalaruma Amlulik sira be ema Indonézia nian uza dalen Indonézia hodi halo misa.

§ Iha duni inan-aman Timór ne'ebé uza dalen Indonézia hodi ko'alia ho sira-nia oan sira. Ida-ne'e dalaruma tanba sira toman tiha ona ka sira ta'uk ema Indonézia sira deskonfia sira katak sira ne'e ema ne'ebé ulun-rua. Maibé númeru inan-aman be ko'alia dalen Indonézia ho sira-nia oan uitoan de'it. Inan-aman Timór nian sempre ko'alia iha dalen tetun ka dalen timór sira seluk bainhira ko'alia ho sira-nia oan.

§ Ema Indonézia sira nunka hakarak atu halo esforsu hodi estuda dalen tetun ka dalen timór nian sira seluk. Aleinde sira lakohi estuda dalen tetun ka dalen timór nian sira seluk, sira mós halo esforsu maka'as atu halekar liután dalen Indonézia hodi bele realiza sira-nia objetivu no meta sira atu Timoran hotuhotu ko'alia de'it dalen Indonézia nian.

§ Bainhira hakerek surat ba malu, ema Timór-oan sira sempre uza lia-indonéziu tanba hodi hadook an hosi presaun militár Indonézia nian. Militár Indonézia sempre revista surat sira ne'ebé Timoroan sira hakerek ba malu. Korrespondénsia hetan bandu durante okupasaun nia laran, Timoroan sempre laran-rua bainhira hakerek surat uza lia-tetun ka lia-portugés tanba esperiénsia hatudu nanis ba sira katak bainhira militár Indonezia sira deskobre surat ruma ne'ebé hakerek ho dalen tetun ka portugés, autór surat nian sei hetan kastigu ne'ebé aat tebes hosi militár Indonézia sira.

§ Mezmuké Indonézia okupa hela Timór Lorosa'e, iha Timoroan barak mak sei ko'alia hela lia-portugés maibé tenke subasubar no hasees an hosi ema Indonézia sira bainhira sira atu ko'alia lia-portugés tanba ema Indonézia sira fó presaun maka'as ba Timoroan ne'ebé komunika ba malu uza lia-portuges. Lia-portugés la hetan fatin atu dezemvolve an iha eskola sira maski iha eskola privada balu ne'ebé partense ba uma-kreda nian, lia-Portugés dalaruma uza mós hodi hato'o lisaun maibé sempre hetan intimidasaun, ameasa no presaun tanba ne'e duni maka lia-portugés la konsege halekar ho justu. Lia-portugés uza mós entre família iha uma-laran maibé ida-ne'e ladún iha leet di'ak atu dezemvolve.

§ Ema Indonézia sempre halo reasaun ida-ne'ebé maka'as tebetebes bainhira ema Timór sira ko'alia lia-portugés n.e. tarata aat ema Timór ne'ebé ko'alia lia-Portugés hodi dehan moris hosi Indonézia, manán Indonézia nia osan, nst. ko'alia fali lia-portugés i ajitasaun oioin hosi ema Indonézia katak rai-Portugál ne'e rai ne'ebé ki'ak liu iha mundu nune'e lalika ko'alia lia-Portugés kuandu ajitasaun ne'e mak la forte entaun sira identifika ema Timór sira-ne'e hanesan GPK/FRETILIN no sempre tau-matan maka'as ba ema sira-ne'e i bainhira iha leet, ema sira-ne'e hetan kastigu be todan hosi militár Indonézia sira.

§ Pontu seluk kona-ba situasaun linguístika nian durante okupasaun Indonézia iha Timór Lorosa'e (Observasaun nu'udar estudante universidade iha área Indonézia durante okupasaun): Tuir esperiénsia ne'ebé ha'u iha nu'udar estudante universidade nian iha área Indonézia durante okupasaun nia laran katak lia-tetun soi nu'udar dalen ne'ebé sempre hasera iha soru-mutu entre membru organizasaun klandestina RENETIL (Resistęncia Nacional Estudantes Timor-Leste) ne'ebé uluk hala'o nia luta ba libertasaun Timór Lorosa'e nian iha área Indonézia nian. Hodi hasees tiha militár Indonézia sira-nian deskonfiansa kona-ba rede klandestina nian iha área Indonézia, Timór-oan sira harii organizasaun IMPPETU (Ikatan Mahasiswa, Pemuda dan Pelajar Timor Timur/Klibur Estudante, Joventude no Alunu Timór Lorosa'e nian) nu'udar organizasaun kurtina ida. Soru-mutu IMPPETU nian sempre hasera dalen Indonéziu ne'ebé militár Indonézia sira mós marka prezensa iha enkontru laran maibé enkontru RENETIL nian sempre hala'o subasubar i uza lia-tetun durante halo diskusaun, planu ka programa luta ba libertasaun rai Timór nian. Hodi nune'e lia-tetun soi papél ne'ebé importante tebes durante tempu okupasaun nian bainhira haree hosi ángulu nu'udar estudante universidade iha área Indonézia nian.

(d). Lia-Indonéziu ohin loron no aban-bainrua

§ Kuaze iha tinan 20 nia laran, hahú hosi eskola primária to'o universidade ha'u hala'o ha'u-nia estudu iha lia-indonéziu. Lia-indonéziu serve hanesan rikusoin kultura nian ida mai ha'u-nia an rasik tanba hatene lia-estranjeiru barak bele haburas końesimentu jerál. Lia-indonéziu tulun ha'u hodi komprende ho di'ak lala'ok no progresu siénsia mundu-raiklaran nian. Hatene lia-indonéziu hafasil ha'u halo fafutuk beluk ho belun sira hosi Indonézia i bele mós ajuda ha'u hodi esplika kona-ba konseitu siénsia sira ne'ebé susar atu komprende. To'o agora daudaun mós haú sente papél lia-Indonéziu nian importante mós mai ha'u

§ Lia-Indonéziu soi papél ne'ebé importante ba Timór Lorosa'e iha tempu oinmai. Nu'udar nasaun ne'ebé ukun rasik an, Timór Lorosa'e sei presiza hala'o fafutuk bilaterál ho Indonézia iha setór no aspetu hotu-hotu portantu hatene lia-indonéziu bele hafasil liután relasaun entre nasaun rua ne'e. Mezmu Timór Lorosa'e sai ona membru CPLP nian maibé Timór Lorosa'e iha mós posibilidade atu tama nu'udar membru ASEAN nian tanba ezisténsia Timór Lorosa'e nian iha rejiaun Azia-Pasífiku i relasaun di'ak ho Indonézia bele tulun Timór Lorosa'e sai membru átivu ASEAN nian ne'ebé iha papél importante mós iha fafutuk rejionál ne'e iha tempu oinmai. Faktu hatudu katak Timór-oan barak mak sei hela-metin iha Indonézia ne'ebé sira ne'e barak mak ko'alia de'it ona dalen Indonézia hodi nune'e importante ba Timór-oan sira iha rai-laran atu hatene dalen Indonézia hodi bele halo komunikasaun ho sira-nia família, belun ka relativu sira iha Timór Loromonu ne'ebá.

Evo Licio Alves Guterres Afonso

Alunu Durubasa_Grupu Inglęs

2 0 0 5


Posted at 05:12 pm by ivochealves
Make a comment  

Thursday, March 09, 2006
Tied Up w/ JS

On 14/02/2006, I was on my annual leave in Viqueque and stayed about one week there. During this day (V day), we (me & my dear JS) attended a celebration prepared by USA Peace Corps Field Staff. It was good party but I wasn't feel satisfied coz my mind was full w/ other things.

When got back in our place, we spent about whole night just to Chat, Discuss as well as ML so' started from that moment we were tied up again after 4 years separated by location, time & others hunny bunny.

Thanks God for everything....May God always blessing us.

 


Posted at 10:52 pm by ivochealves
Make a comment  

ANTONIO ALVES DE JESUS CARVALHO

ANTONIO ALVES DE JESUS CARVALHO sarani iha Igreja Becora iha loron 23 Fevereiru 2006. Sr. Sico Durubasa nia oan mane ikun...

Aman Sarani: Ivo Alvez

Hopefully God always Blessing you, 'toy!!


Posted at 10:39 pm by ivochealves
Make a comment  

MANDUKU:'Language Game'&'Sense of Humor'

Manduku: "Language Game" no "Sense of Humor"


Nu'udar ema ne'ebé iha interese ba "formaçăo da opiniăo publica", ha'u sempre haksolok bainhira hatene ema seluk nia hanoin kona-ba statement (Tetun – Deklarasaun) eh argumentu foun.
Tan ne'e, ha'u sente interesante tebes bainhira lee PM Dr. Mari Alkatiri nia reasaun ne'ebé dehan «Ita-nia raí ne'e padre balu mós halo polítika. Komu la iha kakutak atu hanoin, hodi nune'e halo tuir deit ha'u-nia liafuan atu akuza. Ha'u la akuza padre ida, ha'u haree hanusa mak padre ida mak hatán fali ha'u, ne'e ha'u sai beik fali» (STL 07 Marsu 2006).

 

Uluk nanain, statement (Tetun – Deklarasaun) ne'ebé ha'u hasai ne'e hanesan "language game" ida. Ida ne'e mósu, bainhira jornalista ida husu kona ba ha'u nia opiniuan tan sa mak FRETELIN la partisipa iha workshop rua kona ba eleisaun jeral 2007. Hodi halimar ho liafuan (katak: language game) ha'u hatan katak ida ne'e hanesan kondisaun manduku. Ha'u uza bahasa Indonesia hodi dehan "katak di bawah tempurung" (manduku ne'ebé subar iha kakung nia okos). Ita nia belun sira husi Indonesia uza frase ida ne'e atu dehan katak ita ema nia kakutak la iha, nune'e mak ita la bele loke ita nia orizonte ba oin. Manduku ne'e ki'ik no kuaze hakdasak iha rai. Se taka metin tan ho kakung, entaun nia orizonte kloot liutan.

 

Language game

Agora, liafuan "manduku" ne'ebé PM esprime, hanesan mós liafuan seluk tan: "sarjana supermi", "burros", "fahi krekas", eh "fuk naruk la fase" ne'e hatudu language game ida. Filosofo boot hanesan Ludwig Wittgenstein dehan katak "language game" ne'e jogos ida ne'ebé ita uza liafuan. Ema ne'ebé halimar ho liafuan, hakarak esprime hanoin ida. Bele di'ak. Bele mós sai aat. Bele sériu. Bele mós simples. Maibe, hodi halo jogos liafuan mak ita bele hatene moris ne'e nia midar no sin, furak no sabraut. Ha'u hanoin katak bainhira PM pronúnsia liafuan "manduku", nia hakarak halimar ho liafuan (language game). Tan ne'e, ha'u mós ko'alia tuir PM nia liafuan hanesan halimar oan ida.

 

Maibe, sai problema bainhira PM dehan katak ida ne'e hanesan "akuza". Agora mak ha'u hanoin, katak, liafuan "manduku" ne'ebé PM uza la'os ona buat halimar nian, maibe sai ona political performance. Dr. Mari Alkatiri uza liafuan la'os atu halimar baibain hanesan labarik sira, maibe hatudu ona nia vizaun politika ida. Entaun, agora mak ha'u hakarak hanoin serius liu tan.  Iha filosofia hermeneutica, H.G. Gadamer (ema matenek boot no kakutak nakonu), dehan katak "being that can be understood is language". Hermeneutica ne'e teoria ida ne'ebé hatudu oinsa mak ita iha capacidade natural atu kumprende no interpreta ema nia liafuan (language). Tan husi ema ida nia liafuan ita bele hatene ema ne'e nia modo de ser (Latim dehan "modus essendi") no modo de agir (modus agendi). Bainhira ita uza liafuan ida, hatudu rasik capacidade natural ema ne'ebé pronúnsia (ko'alia sai, dehan sai).

 

Entaun, ita hare fali ona liafuan "manduku" hanesan referensia ida atu foti politics of discourse ida. Liafuan hanesan "manduku", "fahi krekas", "fuk naruk la fase", eh "sarjana supermi" ha'u uza atu halimar ho ha'u nia maluk sira eh labarik jovens sira. Tan ha'u hanoin, liafuan sira ne'e la iha nia qualidade atu foti ba diskursu akademiku ida. Ita la sente nia volor atu hanoin ho serius. Ba ha'u, liafuan hirak ne'e la tama iha kategoria nudar intelektual. Simplismente, liafuan hirak ne'e ita bele uza atu halimar. Entaun, ha'u simu ho ksolok se Dr. Mari Alkatiri dehan «Komo la iha kakutak atu hanoin, hodi nunee halo tuir deit ha'u nia liafuan ...». Francamente, ha'u la "akuza" PM. Ha'u halimar deit ho PM nia liafuan. Maibe, liu-liu ha'u la uza duni kakutak. Tan ha'u nia kakutak la'os uza atu analiza linguagem sira ne'ebé serve deit atu tau iha fatin lixu (kotak sampah) nia laran.

 

Bainhira jornalista sira halo intervista iha Memorial Hall, ha'u mós ko'alia halimar no halo ema hamnasa. Tan ema sira ne'ebé rona, sinti laran makili ho espresaun ne'ebé ha'u halo. Entaun, liafuan "manduku" ne'ebé ha'u dehan la'os buat seriu ida atu PM lori ba lia. Ida ne'e hanesan atu halimar deit. Tan ha'u sinti, liafuan "manduku" ne'ebé PM uza ne'e hanesan halimar. Dala ida tan, ha'u mós halimar deit. Klaru, PM bele dehan katak nudar sidadaun ida Padre Martinho Gusmăo la respeita nia Nai Ulun. Ida ne'e ha'u simu katak ha'u sala. Tan nudar ema ki'ik ha'u la bele halimar ho ema boot. Maibe, hanesan kabeen ida karik, ha'u tafui tiha ona entaun la bele lambe fali. Halo nusa?! Ha'u kala hein deit ona lei defamasaun.

 

Homo Ludens

Maibe, interesante mós PM dehan katak liafuan "manduku" nia uza atu akuza PD no PSD. Ha'u hanoin katak liafaun ne'e (hanesan mós "fahi krekas", "fuk naruk la fase", "sarjana supermi"), PM uza hanesan stilistica iha nia sense of humor. Ha'u hanoin, atu hasoru partidu ida eh hasoru grupo ida, PM kustumi uza liafuan "humor". Maibe, agora mak ha'u hatene katak PM uza liafuan sira ne'e atu akuza. 

 

Filosofia mós ko'alia kona ba homo ludens, katak, ita ema hanesan kriatura ida ne'ebé halimar. Tuir Huizinga (filosofo husi Belanda), dehan katak, bainhira ita bele halimar serius ho ema seluk entaun ita hatudu personalidade ida. Ita halimar ho liafuan "manduku", hatudu katak ita menikmati (enjoy) ema seluk nia sense of humor, ema seluk nia arte no pensamento. Hanesan jogo ida, ita nia halimar sai furak bainhira ema seluk mós hatudu maneira hanesan. Ida ne'e mak hatudu katak ita nia kakutak funsiona diak. Ita nia sensibilidade la'o furak. Maibe liu-liu intelijensia.

 

Ha'u la importa se PD eh PSD hatan ona ka lae. La'os ha'u nia problema atu defende PD eh PSD. Ha'u mós la kaer kartaun PD no PSD. Husi ki'ik to'o ohin loron ha'u simpatizanti FRETELIN. Maibe la'os militante fanatiku ba poder ne'ebé camarada sira iha. Nudar simpatizanti ha'u halo ona ha'u nia defesa incesante iha kedas Kol. Tono Suratman no Kol. Timbul Silaen nia oin. Iha ha'u nia livru foun "Timor Lorosae: Perjalanan Menuju Dekolonisasi Hatidiri" (Dioma: Malang, 2003), mosu artigu hotu ne'ebé ha'u hakerek iha Indonesia nia tempu hodi defende FRETELIN ho passion no compassion. Bainhira ha'u halo defesa ba FRETELIN, ha'u la konhese Dr. Mari Alkatiri atu mai hanorin ha'u katak padre balu mós halo politika. Ha'u nia defesa ba FRETELIN hanesan vokasaun natural. La iha interesse politika muito menos vontade atu hadau malu kadeira ho Dr. Mari Alkatiri. Entaun, iha ne'e nudar Padre, ha'u la bele halo politika atu hadau poder. Ida ne'e proibido. Maibe, interesante ... bainhira Bispo no padre husi Indonesia tama iha politika Estado nian kona ba CVA, PM Dr. Alkatiri la halo reasaun. Entaun, PM hanesan mós PR, simu deit padre sira ne'ebé halo favor ba politika Governo no Estado nian. Se, padre sira hanoin la tuir sira, entaun ne'e sira dehan "sai beik tiha", maibe mós dala ruma sai beik duni" karik! La seluk la leet, ida ne'e ita halo kondisionalizmu polítiku ba sidadaun Timor nian.

 

Nu'udar sidadaun, ha'u iha direitu tomak atu halo polítika. Ida ne'e konsagra ona iha Konstituisaun RDTL. Ita-nia estadu ne'e laicista. Entaun, estadu la bele hare ba relijiaun ida ka rua nia regra atu bandu sidadaun ida halo politika. Iha relijiaun Katólika, so Santo Padre no Bispo mak iha direito atu dehan padre mós halo politika ka lae! Iha Timor ne'e, Presidenti no PM (dala ruma politiku kelas teri) mak hanesan fali Santo Padre no Bispo atu bandu padre. Konstituisaun la bandu atu padre halo politika ka lae. Ne'e la hetan boy!? Karik, PM seidauk hatene Konstituisaun ne'ebé fo garansia ba sidadaun tomak atu partisipa iha politika? Eh, PM hatene deit katak politika ne'e atu hadau malu kadeira ba poder nian? Entaun, ida ne'e visaun politika "manduku iha kakung okos" (katak di bawah tempurung).

 

Dehan katak "komo la iha kakutak atu hanoin, hodi nune'e halo tuir deit ha'u nia liafuan atu akuza", entaun ha'u intende sala Dr. Alkatiri nia sense of humor. Iha resposta rua ne'ebé ha'u hakarak dehan. Primeiro, dehan "halo tuir deit", yes! Tan ha'u uza liafuan "manduku" atu halimar deit. Agora, se ema seluk hamnasa ne'e katak jogos la'o diak. Maibe, se Dr. Mari Alkatiri dehan "sai beik fali", entaun jogos la'o oinseluk ona. Maibe, dehan fali "kakutak la iha", no way! Tan, ha'u la preciza uza kakutak atu interpreta "sense of humor" ida. Iha humor nia laran, ita halimar uluk atu hamnasa. Se Dr. Mari Alkatiri hanoin katak liafuan "manduku" ne'e concept ida, entaun ha'u tenki estuda tan fali filosofia no teoria politika. Tan to'o ohin loron ha'u seidauk hetan opus magnus ida ne'ebé ko'alia kona ba politika manduku nian. Tebes, husi ki'ik to'o boot ha'u fiar katak la'os FRETELIN mak "manduku", maibe manduku mak iha FRETELIN nia laran karik?

 


Martinho G. Da Silva Gusmăo

 

Artigu ne'e públika iha STL 08/03/2006

by. Ivo Alvez


Posted at 10:31 pm by ivochealves
Comment (1)  

Tuesday, December 20, 2005
PLANU FERIAS NATAL 2005 & TINAN FOUN 2006

Feriadu Natal 2005 no Tinan Foun 2006 hahú iha loron 23, fulan-Dezembru, tinan 2005 to'o loron 4, fulan -Janeiru, tinan 2006.

Iha planu atu bá vizita Viqueque iha loron 28, fulan-dezembru, tinan 2005 maibé data mós seidauk fiksu ida. Kuandu bá duni Viqueque iha loron ne'e entaun ha'u sei fila hikas mai Dili iha loron 3, fulan-Janeiru, tinan 2006.

BOAS FESTAS NATAL 2005 i FELIZ ANO NOVO 2006 NIAN BA AMIGU SIRA HOTU.

 


Posted at 10:52 pm by ivochealves
Make a comment  

Monday, December 19, 2005
ALESSANDRO ZAPATA

IHA LORON 9, FULAN-DEZEMBRU, TINAN 2005

SEREMÓNIU SARANI LABARIK SIRA-NIAN IHA IGREJA MOTAEL DILI

HA'U-NIA OAN SARANI NIA NARAN KOMPLETU: ALESSANDRO ZAPATA

KOMADRE CLERIANA NO KOMPADRE JONAS AMARAL

AMAN-SARANI: EVO AFONSO

INAN-SARANI: J. BAKHITA

SEREMÓNIU SIMPLES HALO IHA KOMPADRE SIRA-NIA UMA IHA HUDI LARAN SURIK MAS NE'EBÉ SASIN SIRA KOMPOSTU HOSI FAMILIA UMA LARAN DE'IT NO VIZIŃU SIRA BALU....

PARABENS BA ZAPATA I OBRIGADU BA KOMPADRE


Posted at 04:21 pm by ivochealves
Make a comment  

'DADA LIA'

INTERASAUN SOSIÁL HABURAS MORIS INDIVIDUÁL NIAN

Ema lubun ida ne'ebé ezersísiu nia moris iha fatin ida, ne'e hanaran Moris Sosiedade. Moris Sosiedade ne'e kompostu hosi kultura, istória, objetivu, nst nia mala'ok sira. Kultura, istória no objetivu mala'ok sira-nian iha moris sosiedade nian bele hanesa i bele mós lahanesan hosi ema ida ba ema seluk depende ba fatin ne'ebé ema ne'e hala'o nia moris bá. Iha fatin ne'ebé dook hosi sidade, lala'ok moris sosiedade nian hamosu objetivu ida de'it hosi nia mala'ok sira. Katak sira iha kultura no istória ne'ebé hanesan, katak mala'ok sira ne'e sei hela metin ho sira-nia kustume puru ne'ebé tradisionál hodi nune'e hamosu objetivu ida de'it iha sira-nia leet. Mala'ok moris sosiedade nian iha sidade laran diferente hosi ema ida ba ema seluk maske sira moris iha fatin ne'ebé hanesan.

to be continued


Posted at 03:51 pm by ivochealves
Make a comment  

Thursday, October 27, 2005
HELLO!!!

Big Smilewhats up today guys?hopefully everythings are fine. Ha'u somente tenta atu espresa de'it sentimentu ruma kona-ba fafutuk subar be ha'u hala'o daudaun ho amigu sira hotu. I'd like to expressing some of my personal feeling concerning hidden relations (love affairs) I have had for every one of you. Horikalan ha'u ba (tiha) vizita teqi ida naran ERNA GOMES (loloos ne'e iha hela namora) i ami nain rua ko'alia lia domin ne'ebe furak ba malu. Ko'alia loloos ne'e, ha'u hakarak tebes atu hakbesik an ba nia iha kalan ne'eba maibe fatin hasoru malu nian mak ladun permite hodi hala'o planu ne'e. Nune'e ami nain rua konsege rei malu uitoan i lailais de'it.

Last night I visited one sweety lady namely ERNA GOMES (actually she had a BF) & we were chat about love and expressed every interesting words to each others. Truely, I really like to closed with her (to approached her) on thats night but the meeting places was not permitted for realizing that plan. Therefore we just had a short kissess. Mak ne'e de'it lai. Thats all by now. tHaNkS fOr vIeWeD Smile


Posted at 11:06 pm by ivochealves
Make a comment  

Next Page